Jumat, 14 November 2014



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada umumnya, dalam  proses pembelajaran di RA, guru memerlukan suatu perantara yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. Maka diperlukan suatu perantara yang menunjang agar peserta didik lebih mudah untuk memahami materi pembelajaran yang disampaikan guru. Perantara tersebut berupa alat atau bahan. Perantara juga sering disebut sebagai media.
Peserta didik juga memerlukan suatu sumber yang digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran. Sumber belajar tersebut bisa berupa guru, buku paket, lingkunagan, alat, pesan yang disampaikan oleh orang yang berilmu, dan sebagainya.
Dalam proses pembelajaran juga diperlukan evaluasi. Evaluasi  digunakan sebagai tolak ukur peserta didik sudah sejauh mana perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor. Evaluasi tidak hanya untuk mengevaluasi peserta didik tetapi juga untuk pengajar.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang media dan sumber pembelajaran serta evaluasi pembelajaran.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, rumusan masalah dalam makalah ini sebagai berikut :
1.      Apa pengertian dari media pembelajaran ?
2.      Apa saja fungsi dari media pembelajaran ?
3.      Apa saja manfaat dari mediapembelajaran ?
4.      Apa saja jenis – jenis dari media pembelajaran ?
5.      Apa pengertian dari sumber belajar ?
6.      Apa saja jenis – jenis dari sumber belajar ?
7.      Apa pengertian dari evaluasi pembelajaran ?
8.      Apa saja tujuan dari evaluasi pembelajaran ?
9.      Apa saja fungsi dari evaluasi pembelajaran ?
10.   Apa saja prinsip – prinsip dari evaluasi pembelajaran ?
11.  Apa saja bentuk/teknik evaluasi pembelajaran ?
C.    Tujuan Makalah
Berdasarkan rumusan masalah tersebut diatas, tujuan dan kegunaan makalah ini sebagai berikut:
1.      Mengetahui pengertian dari media pembelajaran.
2.      Mengetahui fungsi dari media pembelajaran.
3.      mengetahui manfaat dari mediapembelajaran.
4.      Mengetahui jenis – jenis dari media pembelajaran.
5.      Mengetahui pengertian dari sumber belajar
6.      Mengetahui  jenis – jenis dari sumber belajar.
7.      Mengetahui pengertian dari evaluasi pembelajaran .
8.      Mengetahui tujuan dari evaluasi pembelajaran .
9.      Mengetahui fungsi dari evaluasi pembelajaran.
10.  Mengetahui  prinsip – prinsip dari evaluasi pembelajaran.
11.  Mengetahui bentuk/teknik evaluasi pembelajaran.














BAB II
PEMBAHASAN
A.      Pengertian Media Pembelajaran
Kata media berasal dari bahasa latin yaitu medius, dan merupakan bentuk jamak dari kata medium yang secara harfiah dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah  perantara atau pembawa pesan dari pengirim kepada penerima pesan.[1]  Rossi dan Breidle, mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan pendidikan, seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya.[2]
Namun demikian, media bukan hanya berupa alat atau bahan saja, akan tetapi hal-hal lain yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan. Gerlach dan Ely menyatakan bahwa secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan atau kegiaan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetauan, keterampilan, dan sikap. Jadi dapat disimpukan bahwa media bukan hanya alat perantara seperti televisi, radio, slide, bahan cetak, akan tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar atau juga berupa kegiatan semacam diskusi, seminar, karyawisata, simulasi dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambahkan pengetahuan dan wawasan , merubah sikap siswa atau untuk menambah keterampilan.[3]
Association for Educational Communications and Technology (AECT) mendefinisikan media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk menyalurkan informasi. Menurut Sri Anitah media pembelajaran adalah setiap orang, bahan, alat atau peristiwa yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pelajar menerima pengetahuan, ketrampilan, dan sikap. Dengan pengertian itu, guru atau dosen, buku ajar, lingkungan adalah media pembelajaran.[4] Media secara umum dapat menjadi media pembelajaran jika segala sesuatu (hardware dan software) tersebut membawa pesan untuk suatu tujuan pembelajaran.[5] Contoh dari hardware adalah over head projector, radio, televisi, dan sebagainya. Sedangkan contoh software adalah cerita yang terkandung dalam film atau materi yang disuguhkan dalam bentuk bagan, grafik, diagram, dan sebagainya.
Jika dikaitkan dengan pendidikan anak usia dini, maka media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan bahan (software)  dan alat (hardware) untuk bermain yang membuat anak usia dini mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan menentukan sikap. Dan, media biasa digunakan dalam PAUD adalah alat permainan edukatif (APE). APE terdiri dari dua golongan, yaitu: (1) APE luar: alat permainan edukatif yang disediakan di luar ruangan (halaman / taman); (2) APE dalam: alat permainan  edukatif yang disediakan untuk anak bermain di dalam ruangan.[6]
B.     Fungsi Media Pembelajaran
Adapun fungsi media pembelajaran bagi peserta didik meliputi:[7]
1.      Menangkap suatu objek
Guru dapat menjelaskan proses terjadinya gerhana matahari yang langka melalui hasil rekaan video. Atau bagaimana proses pergantian ulat menjadi kupu-kupu. Bagi guru taman kanak-kanak sering menggunakan media televisi ataupun rekaman video yang nantinya di sampaikan pada anak didik sesuai dengan tema yang disampaikan di dalam pembelajaran.
2.      Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu
Melalui media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak menjadi konkret sehingga mudah dipahami dan dapat menghilangkan verbalisme. Misalnya ketika guru bercerita  mengenai struktur ataupun anatomi binatang gajah, maka perspektif anak usia dini di dalam berimajinasi dapat menciptakan perspektif yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh guru.
3.      Menambah gairah dan motivasi belajar siswa
Penggunaan media pembelajaran dapat memotivasi belajar siswa sehingga perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat lebih meningkat. Contoh, sebelum mempelajari indahnya alam Indonesia, guru lebih dahulu memutarkan film tentang keanekaragaman alam Indonesia, menggunakan alat peraga sesuai dengan tema, dan sebagainya.
4.      Media pembelajaran memiliki nilai praktis
Pertama, media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimilliki siswa.
Kedua, media apat mengatasi batas ruang kelas, hal ini terutama untuk menyajikan bahan belajar yang sulit dipahami secara langsung oleh peserta.
Ketiga, media dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta dengan lingkungan.
Keempat, media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan.
Kelima, media dapat  menanamkan konsep dasar yang benar, nyata, dan tepat.
Keenam, media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang peserta untuk belajar dengan baik.
Ketujuh, media dapat  membangkitkan keinginan dan minat baru.
Kedelapan, media dapat mengontrol kecepatan belajar siswa.
Kesembilan, media dapat memberikan pengalamana yang menyeluruh dari hal-hal yang konkret sampai yang abstrak.




C.    Manfaat Media Pembeajaran
Banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan memafaatkan media dalam pembelajaran, yaitu:[8]
1.         Pesan atau informasi pembelajaran dapat disampaikandengan lebih jelas, menarik, konkret dan tidak hanya dalam bentuk kata-kata tertulis atau hanya lisan.
2.         Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra. Misalnya obyek yang terlalu besar dapat digantikan dengan realitas, gambar, film bingkai, film atau model. Kejadian atau peristiwa di masa lalu dapat di tampilkan lagi lewat rekaman film, video dan lain – lain. Obyek yang begitu kompleks dapat disajikan dengan model, diagram dan lain – lain.
3.         Meningkatkan sikap aktif siswa dalam belajar.
4.         Menimbulkan kegairahan dan motivasi dalam belajar.
5.         Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara siswa dengan lingkunagn dan kenyataan.
6.         Memungkinkan siswa untuk belajar sendiri – sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
7.         Memberikan perangsang,  pengalaman, dan persepsi, yang sama bagi siswa.
Menurut kemp dan Dayton, media memiliki kontribusi yang sangat penting terhadap proses pembelajaran, meliputi:[9]
1.         Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih terstandar.
2.        Pembelajaran dapat lebih menarik.
3.        Pembelajaran menjadi lebih interaktif
4.         Waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek.
5.         Kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan.
6.        Proses pembelajan dapat berlangsung kapan pun dan di mana pun diperlukan.
7.         Sikap positif siswa terhadap meteri pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
8.         Peran guru berubah kearah yang positif, artinya guru tidak menempakan diri sebagai satu-satunya sumber belajar.
D.    Jenis – Jenis Media Pembelajaran
            Jenis media yang sering digunakan di Indonesia dalam kegiatan pembelajaran, diantaranya:
1.      Media visual / grafis
Media visual adalah media yang dapat dilihat. Media visual terdiri atas media yang dapat diproyeksikan (projected visual) dan media yang tidak dapat diproyeksikan (non projected visual): [10]
a.       Media yang dapat diproyeksikan yaitu suatu media visual, namun dapat diproyeksikan pada layar melalui suatu pesawat proyektor. Oleh karena itu, media ini tidak dapat dipisahkan dari dua unsur, yaitu perangkat keras atau perangkat lunak. Jenis atau contoh dari media yang dapat diproyeksikan, yaitu: overhead projector (OHP), slide (film bingkai), flimstrip (film rangkai), opaque projector, video dan  film.
b.      Media yang tidak dapat diproyeksikan yaitu media yang sederhana, tidak membutuhkan proyektor dan layar untuk memproyeksikan perangkat lunak. Jenis atau contoh dari media yang tidak dapat diproyeksikan, yaitu: gambar / foto yang konkret, sketsa, diagram, grafik, kartun,  dan sebagainya.
2.      Media audio
Media audio adalah media yang berkaitan dengan indra pendengaran. Pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam lambang – lambang auditif, baik verbal (lisan), maupun non verbal. Ada beberapa jenis media audio, yaitu: radio, alat perekam magnetik, piringan hitam, dan laboratorium bahasa.[11]
3.      Media audio visual
Media audio visual mempunyai persamaan dengan media grafis dalam arti menyajikan rangsangan – rangsangan visual. Perbedaannya adalah pada media grafis dapat berinteraksi secara langsung dengan pesan media bersangkutan, sedangkan  media audio visual terlebih dahulu harus diproyeksikan dengan proyektor agar dapat dilihat oleh sasaran, ada kalanya media ini disertai rekaman audio tetapi ada pula yang hanya visual saja. Beberapa jenis media audio visual, diantaranya: film bingkai, film, televisi, video, media transparansi, permainan dan simulasi.[12]
E.     Pengertian Sumber Belajar
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada disekitar lingkungan kegiatan  belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. [13] Association of Educational Communication and Technologhy (AECT), mengklasifikasikan sumber belajar ini menjadi dua, yaitu: resources by design (sumber belajar yang dirancang) dan resources by utilization (sumber belajar yang dimanfaatkan). Sumber belajar yang dirancang maksudnya sumber belajar itu sengaja direncanakan untuk keperluan pembelajaran, misalnya: buku paket, modul, lembar kerja anak. sumber belajar yang dimanfaatkan yaitu segala sesuatu yang sudah tergelar disekitar kita, dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan mengajar, misalnya: kebun binatang, museum, dan lain sebagainya.[14]
F.     Jenis-Jenis Sumber Belajar
            Sumber belajar sangatlah penting untuk menunjang optimalisasi didalam belajar. AECT ( association for educational communication and technology) membedakan enam jenis sumber belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar, yaitu:[15]
1.      Pesan (Message)
Pesan merupakan sumber belajar yang meliputi pesan formal, yaitu pesan yang dikeluarkan oleh lembaga resmi, seperti pemerintahan atau pesan yang disampaikan guru dalam situasi pembelajaran. Pesan – pesan ini selain disampaikan secara lisan juga dibuat dalam bentuk dokumen, seperti kurikulum, peraturan pemerintah, perundangan, GBPP, silabus, dan sebagainya. Pesan non formal, yaitu pesan yang ada dilingkungan masyarakat luas yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran, misalnya cerita rakyat, legenda, ceramah oleh tokoh masyarakat dan ulama.
2.      Orang (People)
Semua orang pada dasarnya dapat berperan sebagai sumber belajar, namun secara umum dapat dibagi dua kelompok. Pertama, kelompok orang yang didesain khusus sebagai sumber belajar utama yang didik secara profesional untuk mengajar, misalnya: guru, konselor, instruktur. Kedua adalah orang yang memiliki profesi selain tenaga yang berada dilingkungan pendidikan dan profesinya tidak terbatas, misalnya: politisi, tenaga kesehatan, pertanian, arsitek, dan lain – lain.
3.      Bahan (Materials)
Bahan merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan pembelajaran, seperti buku lembar kerja anak, buku paket, program video, film, dan sebagainya (biasa disebut software).
4.         Alat (Device)
Alat yang dimaksud disini adalah benda-benda yang berbentuk fsik, sering disebut juga dengan perangkat keras (hardware). Contoh film tape recorder, opaque projector, multimedia projector  dan sebagainya.
 5.   Teknik (Technique)
Tekik yang dimaksud adalah cara ( prosedur) yang digunakan orang dalam memberikan pembelajar guna tercapai tujuan pembelajaran. Di dalamnya mencakup ceramah, permainan / simulasi, tanya jawab, sosiodrama, dan sebagainya.
5.      Latar (Setting)
Latar atau lingkungan yang berada didalam sekolah maupun lingkungan yang berada di luar sekolah, baik yang sengaja dirancang maupun yang tidak secara khusus disiapkan untuk pembelajaran; termasuk didalamnya adalah pengaturan ruang, pencahayaan, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium, halaman sekolah, kebun sekolah, lapangan sekolah dan sebagainya.[16]
G.    Pengertian Evaluasi
Evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauhmana tingkat perubahan dalam pribadi siswa. Evaluasi adalah proses menggambarkan, memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna untuk menilai alternatif keputusan. Dua langkah kegiatan yang dilalui sebelum mengambil suatu keputusan itulah yang disebut mengadakan evaluasi, yakni mengukur dan menilai.
Mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Menilai adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk. Penialian bersifat kualitatif. Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah tersebut yakni mengukur dan menilai. Didalam istilah asing penilaian adalah evaluation dan didalam bahasa indonesia disebut evaluasi.[17]
Evaluasi berasal dari kata evaluation, kata tersebut diserap kedalam perbendaharaan istilah bahasa Indonesia menjadi evaluasi. Evaluasi adalah to find out, decide the ammoubt or vale yang artinya suatu upaya untuk menentukan nilai atau jumlah.[18]
Suchman memandang evaluasi sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan yang direncanakan untuk mendukung tercapainya sebuah tujuan. Menurut Worthen dan Sanders mengatakan bahwa kegiatan mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu; dalam mencari sesuatu tersebut, juga termasuk mencari informasi yang bermanfaat dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur, serta alternatif setrategi yang diajukan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan.
Stufflebeam mengatakan bahwa evaluasi merupakan proses penggambaran, pencarian dan pemberian informasi yang sangat  bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam menentukan alternatif keputusan.[19]
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu , yang selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
Evaluasi dalam pembelajaran anak usia dini berdasarkan Permendiknas No. 58 Tahun 2009, dimana penilaian anak berdasarkan tingkat pencapaian perkembangan anak, yaitu : nilai – nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, sosio emosional.[20]
Evaluasi didalam pendidikan anak usia dini ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru, antara lain:
1.      Pengamatan langsung (observasi)
2.      Mencatat kegiatan yang dilakukan dan tahapan main anak
3.      Mencatat ungkapan, pertanyaan (tanya jawab), pernyataan anak
4.      Membaca hasil karya anak, mendokumentasikan semua bahasa natural anak  ke dalam portofolio masing-masing anak.[21]
H.    Tujuan Evaluasi
Kegiatan evaluasi tidak terlepas dari setiap bidang-bidang dan kegiatan, misalnya didalam kegiatan bimbigan dan penyuluhan, kegiatan supervisi, kegiatan seleksi dan kegiatan pengajaran lainnya, seperi kegiatan belajar mengajar di lembaga pra sekolah sekalipun. Dari setiap kegiatan tersebut menuntut tujuan yang berbeda-beda, sehingga memiliki kegiatan evaluasi yang berbeda-beda. Dalam kegiatan bimbingan dan penyuluahan, tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi secara menyeluruh mengenai karakter anak didik sehingga dapat diberikan bimbingan dan penyuluhan dengan sebaik-baiknya. Dalam kegiatan supervisi, tujuan evaluasi adalah untuk mementukan keadaan suatu situasi pendidikan pada umumnya dan situasi belajar-mengajar(teaching learning situation) pada khususnya sehingga dapat diusahakan langkah-langkah perbaikan  dan peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran disuatu sekolah.[22] Sedangkan dalam proses instruksional, evaluasi bertujuan:
1.        Untuk mengetahui sejauh mana anak didik menguasai materi yang telah diberikan
2.        Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan, keuletan, dan kemampuan anak didik terhadap ,materi pembelajaran.
3.        Untuk mengetahui apakah tingkatan kemajuan anak didik sudah sesuai dengan tingkatan kemajuan menurut program kerja
4.        Untuk mengetahui derajat efisiensi dan keefektifan strategi pengajaran yang telah digunakan, baik yang menyangkut metode maupun yang menyangkut teknik belajar-mengajar.
Tujuan-tujuan diatas masih bersifat umum dan menyeluruh. menurut pendapat Noll masih mempunyai sistematika yang agak berlainan. Ia berpendapat bahwa tujuan evaluasi dan pengukuran dalam bidang pendidikan dapat dinyatakan dalam dua cara, yaitu:
1)      Untuk menolong anak mengetahui segi-segi yang kuat serta segi-segi yang lemah yang terdapat pada dirinya, sedangkan anak tadi mengembangkan keterampilan-ketrampilan dan pengetahuan guna mendapat tempatnya dalam kehidupan dan masyarakat.
2)      Untuk mengetahui sampai dimana anak berhasil mencapai tujuan pendidikan, dan masih berapa jauh kemampuan yang dicapai anak kalau ditinjau dari tujuan-tujuan pendidikan.[23]
I.       Fungsi Evaluasi
Fungsi evaluasi sangatlah luas cakupannya dan bergantung kepada dari sudut mana melihatnya, secara menyeluruh fungsi evaluasi adalah:
1.        Secara psikologi anak didik selalu butuh untuk mengetahui sejauh mana ia berjalan menuju kepada tujuan yang hendak dicapai.
2.        Secara sosiologi, evaluasi berfungsi untuk mengetahui apakah anak didik sudah cukup mampu untuk terjun ke masyarakat.
3.        Secara dikdaktis-metodid, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan anak didik pada kelompok tertentu sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya masing-masing,serta membantu guru dalam usaha memperbaiki metode belajar mengajarnya.
4.        Evaluasi berfungsi untuk mengetahui status anak didik diantara teman-temanya, apakah ia termasuk anak yang pandai, sedang, atau kurang pandai.
5.        Evaluasi berfungsi untuk mengetahui taraf kesiapan anak didik dalam menempuh program pendidikannya.
6.        Evaluasi berfungsi membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi, baik dalam rangka menentukan jenis pendidikan, jurusan, maupun kenaikan kelas.
7.        Secara administratif, evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan tentang kemajuan anak didik kepada orang tua, pejabat pemerintah yang berwenang, kepala sekolah, guru-guru dan anak didik itu sendiri.[24]
Adapun fungsi dari evaluasi pendidikan, ditinjaudari berbagai segi dalam sistem pendidikan, maka dengan cara lain dapat dikatakan bahwa funsi evaluasi ada beberapa hal:
1.        Evaluasi berfungsi selektif
Dengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap siswanya.
2.      Evaluasi bersifat diagnostik
Apabiala alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dapat dilihat hasilnya. Guru akan mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu diketahui pula sebab-musabab kelemahan itu. Jadi
dengan mengadakan evaluasi, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya, sehingga sebab dari kelemahan itu akan cepat cara jalan keluarnya untuk mengatasinya.
3.      Evaluasi berfungsi sebagai penempatan
Evaluasi ini berfungsi untuk menentuka dengan pasti dikelompok mana seorang siswa harus ditempatkan sesuai dengan kemampuan siswanya. Sekelompok siswa mempunyai hasil evaluasi yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
4.        Evaluasi berfungsi sebagai pengukur keberhasilan
Fungsi evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu guru, metode, mengajar, kurikulum, sarana dan sistem kurikulum.[25]


J.      Prinsip-Prinsip Evaluasi
Untuk melakukan evaluasi pendidikan dengan sebaik-baiknya, sebagai guru yang provesional hendaknya mengetahui prinsip-prinsip Evaluasi sebagai berikut:
1.      Prinsip integralitas (keseluruhan) dalam prinsip ini yang dinilai bukan hanya kecerdasan atau hasil pelajaran atau ingatannya saja, melainkan seluruh pribadinyamelainkan seluruh opribadinya. Untuk pelaksanaan ini diperlukan bermacam-macam teknik/bentuk evaluasi.
2.    Prinsip kontinuitas. Evaluasi yang baik tidak hanya dilakukan secara insendental belaka( umpamanya hanya tiap catur wulan sekali) karena pendidikan itu merupakan suatu proses yang kontinu, maka penilaian yang doiperoleh harus senantiasa dihhubungkan dengan hasil-hasil penilaian pada waktu sebelum nya. Sehingga dengan  demikian dapat diperoleh gambaranyang jelas tentang perkembangan anak.
3.    Prinsip obyektivitas. Tiap penilaian harus diusahakan agar dilakukan se obyektif-obyektifnya, dalam hal perasaan se penilai harus dijauhkan, tidak boleh mempengaruhi penilaian. Juga situasi seperti senang , marah, jangan mempengaruhi evaluasi yang sedang dijalankan . penilaian yang obyektif adaalah penilaian yang didasarkan semata-mata atas kenyataan yang sebenarnya.
4.    Prinsip koperatif. Prinsip ini sangat erat hubungannya dengan ketiga prinsip tersebut diatas. Yang dimaksud adalah bahwav setiap penilaian hendaknya dilakukan bersama-sama oleh semua guru yang bersangkutan.  Prinsip[ ini sangat diperlukan untuk diperlukan terutama di sekolah.

K.    Bentuk/Teknik Evaluasi
Untuk melakukan evauasi dalam pendidikan dengan sebaik-baiknya, ada bertmacam-macam bentuk atau cara yang digunakan. Wrightstone cs. Dalam bukunya ‘ Evaluation In Modern Education” menggolongkan bermacam-macam bentuk evaluasi yang bisa digunakan dalam pendidikan , menjadi 9 kelompok, Yaitu:[26]
1.      Short-Answer Test
Short answer tests atau yang biasa disebut juga objective tests atau new type tests adalah test yang disusun sedemikian sehiingga jawabannya sangat singkat, si penjawab tinggal mencoret, melingari, memilih, mngisi, atau menjodohkan, dsb. Short—aswer test terdiri dari beberapa macam, antara lain:
a.       Completion atau ffill—in, yaitu satu bentuk tes yang menuntut si penjawab untuk melengkapi kalimat atau pernyataan dengan satu atau dua kata uang tepat. Atau mengisi titik-titik yng tersedia dalam suatu rangkaian kalimat atau ceritera, dengan kata yang sesuai. Bntuk ini seringkali terdapat paa soal-soal ujian mata pelajaran ilmu bumi, sejarah dan bahasa.
b.      True-fallse (bentuk salah benar), dalam bentuk ini si penjawab mengemukakan pendapat tentang benr atau salah” salahnya suatu kalimat atau pernyataan, dengan melingkari atau menulis huruf B, jika menurut pendapatnya pernyataan itu benar, dan huruf S, jika menurutpendapatnya pernyataan itu salah.
c.       Multiple choice (bentuk pilihan beganda) si penjawab dituntut untuk memilih satu ari dua atau lebih kemungkinan jawaban yang tersedia. Tugas si penjawab meggaribawahi, melingkari, mencoret nomor jawaban yang dianggap paling tepat.
d.      Matching (bentuk menjodohkan) bentuk ini terdiri dari dari dua kolom/lajur kata—kata dan kalimat yang disejajarkkan.

Kebaikan short answer tests  antara lain:
a.       Dapat digunakan untuk menilai bahan pelajaran yang banyak atau luas. Pelajaran yang diberikan 1 atau 2 tahun dapat ditest sekaligus.
b.      Baik yang ditest, menjawabnya dapat bebas dan terpimpin ( karena ada jawaban yang tersedia)
c.       Dapat dinilai secara obyektif (siapapun  penilainya adalah sama) karena kunci jawaban telah ditentukan sebelumnya.
d.      Mengharuskan siswa untuk belajar baik-baik, karena sukar untuk berspekulasi terhadap bagian mana dari seluruh pelajaran itu yang haruis dipelajari.
e.       Memeriksa cepat dan mudah, tidak memerlukan banyak pikiran
Keburukan/kelemahan, antara lain:
a.       Kurang memberikan kesempatan untuk menyatakan isi hati atau kecakapan yang sesungguhnya, karena anak tidak membuat kalimat.
b.      Memungkinkan anak berbuat coba-coba dalam menjawabnya.
c.       Menyusun test ini tidak mudah, memerlukan ketelitian dan waktu yang relatif lama
d.      Memerlukan biaya dan kertas yang lebih banyak, dibandingkan dengan essay test.[27]
2.      Essay and oral examinations
Esssay Examination
Esssay test yaitu suatui test yang jawabannya menuntut murid untuk menyatakan pendapat/jawabannya berupa karangan atau uraian dalam kalimat. Essay test merupakan bentuk/teknik evluasi yang paling dikenal dan banyak dipergunakan oleh guru-guru di sekolah baik dulu maupun sekarang.
Kebaikan antara lain:
a.       Bagi guru, menyusun test tersebut sangat mudah dan tidak memerlukan waktulama/
b.      Bagi yang di test mempunyaii kebebasan untuk menjawab dan mengeluarkan pendapatnya.
c.       Melatih siswa mengeluarkan buah pikiran dalam bentuk kalimat/bahasa yang teratur.
d.      Lebih ekonomis, karena tidak memerlukan biaya atau kertas yang banyak.
Keburukan/kelemahannya:
a.       Tidak/kurang dapat digunakan untuk mentest pelajaran yang cakupannya luas/banyak: demikian kurang dapat menilai isi pengetahuan siswa yang sebenarnya.
b.      Kemungkinan jawaban yang heterogren sifatnya, menyulitkan guru dalam memberi nilai.
c.       Karakteristik pembuat essaynya yang berbeda pada setiap guru, dapat menimbulkan salah pengertian bagi murid-murid, juga tuntutan banyak jawaban bagi tiap guu tidak sama.[28]
3.       Oral-examintion ( bentuk test/ujian lisan)
Kebaikan dan keburukan oral examination
Kebaikannya:
a.       Lebih dapat menilai kepribadian dan isi pengetahuan seseeorang, karena dilakukan secara face to face
b.      Jika yang diuji belum jelas, penguji dapat mengubah pertanyaannya sehingga diengerti oleh yang diuji.
c.       Penguji dapat mengorek isi pengetahuan yang diuji sampai mendetail, dan dapat mengetahui bidang mana dari pengetahuan itu yang lebih disuakai atau disenanginya.
Keburukannya:
a.       Jikan hubungan penguji dengan yang diuji kurang baik, dapat mengganggu obyektivitas hasil test.
b.      Sifat penggugup pada yang ditest dapat menggamggu kelancaran jawaban yang diberikannya.
c.       Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan tidak dapat selalu sama jawabannya pada tiap orang yang ditest.
d.      Untuk mentest kelompok memerlukan waktu yang lama, sehingga tidak ekonomis.[29]
 4.  Observation and anecdotal records
5.      Questionnaires, invertories and interviews
6.      Checklits and rating scales
7.      Personal reports and projective techniques
8.      Sociometric mathods
9.      Case studies
10.  Comulative records











BAB III
PENUTUP
Simpulan
A.    Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan bahan (software)  dan alat (hardware) untuk bermain yang membuat anak usia dini mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan menentukan sikap.
B.     Fungsi media pembelajaran
1.         Menangkap suatu objek
2.         Memanipulasi keadaan, peristiwa, atau objek tertentu
3.      Menambah giarah dan motivasi belajar siswa
4.      Media pembelajaran memiliki nilai praktis
C.     Manfaat media pembelajaran
1.      Pesan atau informasi pembelajaran dapat disampaikandengan lebih jelas, menarik, konkret dan tidak hanya dalam bentuk kata-kata tertulis atau hanya lisan.
2.       Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra. Misalnya obyek yang terlalu besar dapat digantikan dengan realitas, gambar, film bingkai, film atau model. Kejadian atau peristiwa di masa lalu dapat di tampilkan lagi lewat rekaman film, video dan lain – lain. Obyek yang begitu kompleks dapat disajikan dengan model, diagram dan lain – lain.
3.      Meningkatkan sikap aktif siswa dalam belajar.
4.      Menimbulkan kegairahan dan motivasi dalam belajar.
5.      Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara siswa dengan lingkunagn dan kenyataan.
6.      Memungkinkan siswa untuk belajar sendiri – sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
7.      Memberikan perangsang,  pengalaman, dan persepsi, yang sama bagi siswa.

D.    Jenis – jenis media pembelajaran
1.         Media visual / grafis
Media visual adalah media yang dapat dilihat. Media visual terdiri atas media yang dapat diproyeksikan (projected visual), misalnya: overhead projector (OHP), slide (film bingkai), flimstrip (film rangkai), opaque projector, video dan  film. dan media yang tidak dapat diproyeksikan (non projected visual), misalnya : gambar / foto yang konkret, sketsa, diagram, grafik, kartun,  dan sebagainya..
2.         Media audio
Media audio adalah media yang berkaitan dengan indra pendengaran. Pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam lambang – lambang auditif, baik verbal (lisan), maupun non verbal. Ada beberapa jenis media audio, yaitu: radio, alat perekam magnetik, piringan hitam, dan laboratorium bahasa.
3.         Media audio visual
Beberapa jenis media audio visual, diantaranya: film bingkai, film, televisi, video, media transparansi, permainan dan simulasi.
E.     Sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada disekitar lingkungan kegiatan  belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar.
F.      Jenis – jenis sumber belajar
1.      Pesan (Message)
Pesan merupakan sumber belajar yang meliputi pesan formal, seperti kurikulum, peraturan pemerintah, perundangan, GBPP, silabus, dan Pesan non formal sebagai bahan pembelajaran, misalnya cerita rakyat, legenda, ceramah oleh tokoh masyarakat dan ulama.
2.      Orang (People)
3.      Bahan (Materials)
Bahan merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan pembelajaran, seperti buku lembar kerja anak, buku paket, program video, film, dan sebagainya (biasa disebut software).
4.         Alat (Device)
Alat yang dimaksud disini adalah benda-benda yang berbentuk fsik, sering disebut juga dengan perangkat keras (hardware). Contoh film tape recorder, opaque projector, multimedia projector  dan sebagainya.
 5.   Teknik (Technique)
Tekik yang dimaksud adalah cara ( prosedur) yang digunakan orang dalam memberikan pembelajar guna tercapai tujuan pembelajaran. Di dalamnya mencakup ceramah, permainan / simulasi, tanya jawab, sosiodrama, dan sebagainya.
6.    Latar (Setting)
Latar atau lingkungan yang berada didalam sekolah maupun lingkungan yang berada di luar sekolah, baik yang sengaja dirancang maupun yang tidak secara khusus disiapkan untuk pembelajaran.
G.    Evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauhmana tingkat perubahan dalam pribadi siswa. Evaluasi dalam pembelajaran anak usia dini berdasarkan Permendiknas No. 58 Tahun 2009, dimana penilaian anak berdasarkan tingkat pencapaian perkembangan anak, yaitu : nilai – nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, sosio emosional.
H.    Tujuan evaluasi
1.      Untuk mengetahui sejauh mana anak didik menguasai materi yang telah diberikan
2.      Untuk mengetahui sejauhmana kemampuan, keuletan, dan kemampuan anak didik terhadap ,materi pembelajaran.
3.       Untuk mengetahui apakah tingkatan kemajuan anak didik sudah sesuai dengan tingkatan kemajuan menurut program kerja
4.      Untuk mengetahui derajat efisiensi dan keefektifan strategi pengajaran yang telah digunakan, baik yang menyangkut metode maupun yang menyangkut teknik belajar-mengajar.
I.       Fungsi evaluasi
1.      Secara psikologi anak didik selalu butuh untuk mengetahui sejauh mana ia berjalan menuju kepada tujuan yang hendak dicapai.
2.       Secara sosiologi, evaluasi berfungsi untuk mengetahui apakah anak didik sudah cukup mampu untuk terjun ke masyarakat.
3.       Secara dikdaktis-metodid, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan anak didik pada kelompok tertentu sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya masing-masing,serta membantu guru dalam usaha memperbaiki metode belajar mengajarnya.
4.       Evaluasi berfungsi untuk mengetahui status anak didik diantara teman-temanya, apakah ia termasuk anak yang pandai, sedang, atau kurang pandai.
5.        Evaluasi berfungsi untuk mengetahui taraf kesiapan anak didik dalam menempuh program pendidikannya.
6.         Evaluasi berfungsi membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi, baik dalam rangka menentukan jenis pendidikan, jurusan, maupun kenaikan kelas.
7.      Secara administratif, evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan tentang kemajuan anak didik kepada orang tua, pejabat pemerintah yang berwenang, kepala sekolah, guru-guru dan anak didik itu sendiri.
J.       Prinsip – prinsip evaluasi
1.      Prinsip integralitas (keseluruhan)
2.      Prinsip kontinuitas.
3.      Prinsip obyektivitas
4.      Prinsip koperatif.
K.    Bentuk / teknik evaluasi
1.      Short-Answer Test
2.      Essay and oral examinations
3.      Oral-examintion ( bentuk test/ujian lisan)
4.      Observation and anecdotal records
5.      Questionnaires, invertories and interviews
6.      Checklits and rating scales
7.      Personal reports and projective techniques
8.      Sociometric mathods
9.      Case studies
10.  Comulative records

















DAFTAR PUSTAKA

Latif, Mukhtar, dkk. 2014. Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Kencana.
 Sanjaya, Wina. 2013.  Perencanaan & Desain sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
Anitah, Sri. 2009. Media Pembelajaran. Surakarta : Lpp Uns dan Uns Press.
Martiyono. 2012. Perencanaann Pembelajaran. Yogyakarta : Aswaja Pressindo.
Daryanto, H. 2012.  Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Reneka Cipta.
Arikunto, Suharsimi dan Cepi Safruddin Abdul Jabar. 2007. Evaluasi Program Pendidikan, Jakarta:  Bumi Aksara.
Arifin, Zainal, 1991. Evaluasi Instruksional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Purwanto, M.Ngalim, dan Sutaadji Djojopranomo. 1979. Administrasi Pendidikan. Jakarta: Mutiara.













[1] Mukhtar Latif, dkk., Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini, (Jakarta : Kencana, 2014), hlm. 151.
[2] Wina sanjaya, Perencanaan & Desain sistem Pembelajaran, (Jakarta: Kencana,2013), hlm. 204.
[3] Ibid.,hlm. 205.
[4] Sri Anitah, Media Pembelajaran, (Surakarta : Lpp Uns dan Uns Press, 2009), hlm. 1-2.
[5] Martiyono, Perencanaann Pembelajaran ,( Yogyakarta : Aswaja Pressindo, 2012), hlm. 141
[6] Mukhtar latif, dkk., orientasi baru pendidikan anak usia dini, ... , hlm. 151.
[7] Wina sanjaya, Perencanaan & Desain sistem Pembelajaran, ... , hlm. 206-210.
[8] Mukhtar Latif, Dkk., Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini, ... , hlm. 165-166.
[9]  Wina Sanjaya, Perencanaan & Desain Sistem Pembelajaran,... , hlm. 210-211.
[10] Sri Anitah, Media Pembelajaran, ... ,  hlm. 7-34.

[11] Mukhtar Latif, dkk., Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini, hlm. 154.
[12] Ibid., hlm. 154-155.
[13] Wina Sanjaya, Perencanaan & Desain Sistem Pembelajaran, ... , hlm. 228.
[14] Sri Anitah, Media Pembelajaran, ... , hlm. 5-6.
[15] Wina Sanjaya, Perencanaan & Desain Sistem Pembelajaran , ..., hlm. 228-230.
[16] Ibid., hlm. 228-230.
[17] H. Daryanto, Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Reneka Cipta, 2012), hlm. 1.
[18] Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi Program Pendidikan,(Jakarta:  Bumi Aksara, 2007), hlm.1
[19] Ibid,. hal. 1
[20] Mukhtar Latif, dkk., Orientasi...hlm. 168.

[21]Ibid,.hlm. 168.
[22]  Zainal Arifin,  Evaluasi Instruksional, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1991), hlm. 5
[23] Ibid,. hal. 7
[24] Ibid,. hal. 9
[25] H. Daryanto, Evaluasi…. hlm. 14
[26] M. Ngalim Purwanto, Sutaadji Djojopranomo,Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Mutiara, 1979), hlm. 146
[27] Ibid,.. hal. 149
[28] Ibid,.. hal. 150
[29]Ibid,. hlm.152

Tidak ada komentar:

Posting Komentar