BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada umumnya, dalam proses pembelajaran di RA, guru memerlukan
suatu perantara yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar. Maka
diperlukan suatu perantara yang menunjang agar peserta didik lebih mudah untuk
memahami materi pembelajaran yang disampaikan guru. Perantara tersebut berupa
alat atau bahan. Perantara juga sering disebut sebagai media.
Peserta didik juga memerlukan
suatu sumber yang digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran. Sumber belajar
tersebut bisa berupa guru, buku paket, lingkunagan, alat, pesan yang
disampaikan oleh orang yang berilmu, dan sebagainya.
Dalam proses pembelajaran juga
diperlukan evaluasi. Evaluasi digunakan
sebagai tolak ukur peserta didik sudah sejauh mana perkembangan kognitif,
afektif, dan psikomotor. Evaluasi tidak hanya untuk mengevaluasi peserta didik
tetapi juga untuk pengajar.
Dalam makalah ini akan dibahas
tentang media dan sumber pembelajaran serta evaluasi pembelajaran.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, rumusan
masalah dalam makalah ini sebagai berikut :
1.
Apa pengertian dari media pembelajaran ?
2.
Apa saja fungsi dari media pembelajaran ?
3.
Apa saja manfaat dari mediapembelajaran ?
4.
Apa saja jenis – jenis dari media pembelajaran ?
5.
Apa pengertian dari sumber belajar ?
6.
Apa saja jenis – jenis dari sumber belajar ?
7.
Apa pengertian dari evaluasi pembelajaran ?
8.
Apa saja tujuan dari evaluasi pembelajaran ?
9.
Apa saja fungsi dari evaluasi pembelajaran ?
10. Apa saja prinsip – prinsip dari evaluasi
pembelajaran ?
11. Apa saja bentuk/teknik
evaluasi pembelajaran ?
C. Tujuan Makalah
Berdasarkan
rumusan masalah tersebut diatas, tujuan dan kegunaan makalah ini sebagai
berikut:
1. Mengetahui pengertian
dari media pembelajaran.
2. Mengetahui fungsi
dari media pembelajaran.
3. mengetahui manfaat
dari mediapembelajaran.
4. Mengetahui jenis –
jenis dari media pembelajaran.
5. Mengetahui
pengertian dari sumber belajar
6. Mengetahui jenis – jenis dari sumber belajar.
7. Mengetahui pengertian
dari evaluasi pembelajaran .
8. Mengetahui tujuan
dari evaluasi pembelajaran .
9. Mengetahui fungsi
dari evaluasi pembelajaran.
10. Mengetahui prinsip – prinsip dari evaluasi pembelajaran.
11. Mengetahui bentuk/teknik
evaluasi pembelajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Media
Pembelajaran
Kata
media berasal dari bahasa
latin yaitu medius,
dan merupakan bentuk jamak dari kata
medium yang secara
harfiah dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pembawa pesan dari pengirim
kepada penerima pesan.[1] Rossi dan Breidle, mengemukakan bahwa media
pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk tujuan
pendidikan, seperti radio, televisi, buku, koran, majalah, dan sebagainya.[2]
Namun
demikian, media bukan hanya berupa alat atau bahan saja, akan tetapi hal-hal
lain yang memungkinkan siswa dapat memperoleh
pengetahuan. Gerlach dan Ely menyatakan bahwa secara umum media itu meliputi
orang, bahan, peralatan atau kegiaan yang menciptakan kondisi yang memungkinkan
siswa memperoleh pengetauan, keterampilan, dan sikap. Jadi dapat disimpukan bahwa
media bukan hanya alat perantara seperti televisi, radio, slide, bahan cetak, akan tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber
belajar atau juga berupa kegiatan semacam diskusi, seminar, karyawisata,
simulasi dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambahkan pengetahuan dan
wawasan , merubah
sikap siswa atau untuk menambah
keterampilan.[3]
Association for Educational Communications and
Technology (AECT) mendefinisikan
media sebagai segala bentuk yang digunakan untuk menyalurkan informasi. Menurut Sri Anitah media pembelajaran adalah setiap orang, bahan, alat atau peristiwa
yang dapat menciptakan kondisi yang memungkinkan pelajar menerima pengetahuan,
ketrampilan, dan sikap. Dengan pengertian itu, guru atau dosen, buku ajar,
lingkungan adalah media pembelajaran.[4]
Media secara umum dapat menjadi media pembelajaran jika segala sesuatu (hardware
dan software) tersebut membawa pesan untuk suatu tujuan pembelajaran.[5] Contoh dari hardware adalah over head projector,
radio, televisi, dan sebagainya. Sedangkan contoh software adalah
cerita yang terkandung dalam film atau materi yang disuguhkan dalam bentuk
bagan, grafik, diagram, dan sebagainya.
Jika dikaitkan dengan pendidikan anak usia dini, maka
media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan bahan (software) dan alat (hardware) untuk bermain yang
membuat anak usia dini mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan
menentukan sikap. Dan, media biasa digunakan dalam PAUD adalah alat permainan edukatif
(APE). APE terdiri dari dua golongan, yaitu: (1) APE luar: alat permainan
edukatif yang disediakan di luar ruangan (halaman / taman); (2) APE dalam: alat
permainan edukatif yang disediakan untuk
anak bermain di dalam ruangan.[6]
B.
Fungsi
Media Pembelajaran
Adapun
fungsi media pembelajaran bagi peserta didik meliputi:[7]
1. Menangkap
suatu objek
Guru
dapat menjelaskan proses terjadinya gerhana matahari yang langka melalui hasil
rekaan video. Atau bagaimana proses pergantian ulat menjadi kupu-kupu. Bagi
guru taman kanak-kanak sering menggunakan media televisi ataupun rekaman video
yang nantinya di sampaikan pada anak didik sesuai dengan tema yang
disampaikan di dalam pembelajaran.
2. Memanipulasi keadaan,
peristiwa, atau objek tertentu
Melalui
media pembelajaran, guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak
menjadi konkret sehingga mudah dipahami dan dapat menghilangkan verbalisme.
Misalnya ketika guru bercerita mengenai
struktur ataupun anatomi binatang gajah, maka perspektif anak usia dini di dalam berimajinasi
dapat menciptakan perspektif yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh
guru.
3. Menambah
gairah dan motivasi belajar
siswa
Penggunaan media pembelajaran
dapat memotivasi
belajar siswa sehingga perhatian siswa
terhadap materi pembelajaran dapat
lebih meningkat. Contoh, sebelum mempelajari indahnya alam Indonesia, guru
lebih dahulu memutarkan film tentang keanekaragaman alam Indonesia, menggunakan alat peraga sesuai dengan tema, dan
sebagainya.
4. Media
pembelajaran memiliki nilai praktis
Pertama,
media dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimilliki siswa.
Kedua,
media apat mengatasi batas ruang kelas, hal ini terutama untuk menyajikan bahan
belajar yang sulit dipahami secara langsung oleh peserta.
Ketiga,
media dapat memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara peserta dengan lingkungan.
Keempat,
media dapat menghasilkan keseragaman pengamatan.
Kelima,
media dapat menanamkan konsep dasar yang
benar, nyata, dan tepat.
Keenam,
media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang peserta untuk belajar dengan
baik.
Ketujuh,
media dapat membangkitkan keinginan dan
minat baru.
Kedelapan,
media dapat mengontrol
kecepatan belajar siswa.
Kesembilan,
media dapat memberikan pengalamana yang menyeluruh dari hal-hal yang konkret
sampai yang abstrak.
C.
Manfaat
Media Pembeajaran
Banyak
manfaat yang dapat diperoleh dengan memafaatkan media dalam pembelajaran,
yaitu:[8]
1.
Pesan atau informasi pembelajaran dapat disampaikandengan lebih jelas,
menarik, konkret dan tidak hanya dalam bentuk kata-kata tertulis atau hanya
lisan.
2.
Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra. Misalnya obyek yang
terlalu besar dapat digantikan dengan realitas, gambar, film bingkai, film atau
model. Kejadian atau peristiwa di masa lalu dapat di tampilkan lagi lewat
rekaman film, video dan lain – lain. Obyek yang begitu kompleks dapat disajikan
dengan model, diagram dan lain – lain.
3.
Meningkatkan sikap aktif siswa dalam belajar.
4.
Menimbulkan kegairahan dan motivasi dalam belajar.
5.
Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara siswa dengan lingkunagn
dan kenyataan.
6.
Memungkinkan siswa untuk belajar sendiri – sendiri menurut kemampuan dan
minatnya.
7.
Memberikan perangsang, pengalaman,
dan persepsi, yang sama bagi siswa.
Menurut
kemp dan Dayton, media memiliki
kontribusi yang sangat penting terhadap proses pembelajaran, meliputi:[9]
1.
Penyampaian pesan pembelajaran dapat lebih
terstandar.
2.
Pembelajaran dapat
lebih menarik.
3.
Pembelajaran menjadi lebih
interaktif
4.
Waktu pelaksanaan
pembelajaran dapat diperpendek.
5.
Kualitas pembelajaran
dapat ditingkatkan.
6.
Proses pembelajan dapat
berlangsung kapan pun dan di mana pun diperlukan.
7.
Sikap positif siswa
terhadap meteri pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan.
8.
Peran guru berubah
kearah yang positif, artinya guru tidak menempakan diri sebagai satu-satunya
sumber belajar.
D.
Jenis – Jenis
Media Pembelajaran
Jenis
media yang sering digunakan di Indonesia dalam kegiatan pembelajaran,
diantaranya:
1. Media visual / grafis
Media visual adalah media yang
dapat dilihat. Media visual terdiri atas media yang dapat diproyeksikan (projected
visual) dan media yang tidak dapat diproyeksikan (non projected visual):
[10]
a.
Media yang dapat
diproyeksikan yaitu suatu media visual, namun dapat diproyeksikan pada layar
melalui suatu pesawat proyektor. Oleh karena itu, media ini tidak dapat
dipisahkan dari dua unsur, yaitu perangkat keras atau perangkat lunak. Jenis
atau contoh dari media yang dapat diproyeksikan, yaitu: overhead projector (OHP),
slide (film bingkai), flimstrip (film rangkai), opaque
projector, video dan film.
b. Media yang tidak dapat diproyeksikan yaitu media yang
sederhana, tidak membutuhkan proyektor dan layar untuk memproyeksikan perangkat
lunak. Jenis atau contoh dari media yang tidak dapat diproyeksikan, yaitu:
gambar / foto yang konkret, sketsa, diagram, grafik, kartun, dan sebagainya.
2. Media audio
Media audio adalah media yang
berkaitan dengan indra pendengaran. Pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam
lambang – lambang auditif, baik verbal (lisan), maupun non verbal. Ada beberapa
jenis media audio, yaitu: radio, alat perekam magnetik, piringan hitam, dan
laboratorium bahasa.[11]
3. Media audio visual
Media audio visual mempunyai
persamaan dengan media grafis dalam arti menyajikan rangsangan – rangsangan
visual. Perbedaannya adalah pada media grafis dapat berinteraksi secara
langsung dengan pesan media bersangkutan, sedangkan media audio visual terlebih dahulu harus
diproyeksikan dengan proyektor agar dapat dilihat oleh sasaran, ada kalanya
media ini disertai rekaman audio tetapi ada pula yang hanya visual saja.
Beberapa jenis media audio visual, diantaranya: film bingkai, film, televisi,
video, media transparansi, permainan dan simulasi.[12]
E. Pengertian
Sumber Belajar
Sumber
belajar adalah segala sesuatu yang ada disekitar lingkungan kegiatan belajar yang secara fungsional dapat
digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar. [13] Association of
Educational Communication and Technologhy (AECT), mengklasifikasikan sumber belajar ini menjadi dua, yaitu: resources
by design (sumber belajar yang dirancang) dan resources by utilization (sumber
belajar yang dimanfaatkan). Sumber belajar yang dirancang maksudnya sumber
belajar itu sengaja direncanakan untuk keperluan pembelajaran, misalnya: buku
paket, modul, lembar kerja anak. sumber belajar yang dimanfaatkan yaitu segala
sesuatu yang sudah tergelar disekitar kita, dan dapat dimanfaatkan untuk
keperluan mengajar, misalnya: kebun binatang, museum, dan lain sebagainya.[14]
F. Jenis-Jenis
Sumber Belajar
Sumber
belajar sangatlah penting untuk menunjang optimalisasi didalam belajar. AECT ( association
for educational communication and technology) membedakan enam jenis sumber
belajar yang dapat digunakan dalam proses belajar, yaitu:[15]
1. Pesan
(Message)
Pesan merupakan sumber belajar yang
meliputi pesan formal, yaitu pesan yang dikeluarkan oleh lembaga resmi, seperti
pemerintahan atau pesan yang disampaikan guru dalam situasi pembelajaran. Pesan – pesan ini selain disampaikan secara lisan juga
dibuat dalam bentuk dokumen, seperti kurikulum, peraturan pemerintah,
perundangan, GBPP, silabus, dan sebagainya.
Pesan non formal, yaitu pesan yang ada dilingkungan masyarakat luas yang dapat
digunakan sebagai bahan pembelajaran,
misalnya cerita rakyat, legenda, ceramah oleh tokoh masyarakat dan ulama.
2. Orang
(People)
Semua
orang pada dasarnya dapat berperan
sebagai sumber belajar, namun secara umum dapat dibagi dua kelompok. Pertama,
kelompok orang yang didesain khusus sebagai sumber belajar utama yang didik secara profesional untuk
mengajar, misalnya: guru, konselor, instruktur.
Kedua adalah orang yang memiliki profesi selain tenaga yang berada dilingkungan
pendidikan dan profesinya
tidak terbatas, misalnya:
politisi, tenaga kesehatan, pertanian, arsitek, dan lain
– lain.
3. Bahan
(Materials)
Bahan merupakan suatu format yang digunakan
untuk menyimpan pesan pembelajaran, seperti buku lembar kerja anak, buku paket, program video, film, dan sebagainya (biasa
disebut software).
4.
Alat (Device)
Alat yang dimaksud disini adalah
benda-benda yang berbentuk fsik, sering
disebut juga dengan perangkat keras (hardware). Contoh film tape
recorder, opaque projector, multimedia projector dan sebagainya.
5.
Teknik (Technique)
Tekik yang dimaksud
adalah cara ( prosedur) yang digunakan orang dalam memberikan pembelajar guna tercapai tujuan
pembelajaran. Di dalamnya mencakup ceramah,
permainan / simulasi, tanya jawab, sosiodrama, dan sebagainya.
5. Latar
(Setting)
Latar atau lingkungan yang berada
didalam sekolah maupun lingkungan yang berada di luar sekolah, baik yang
sengaja dirancang maupun yang tidak secara khusus disiapkan untuk pembelajaran;
termasuk didalamnya adalah pengaturan ruang, pencahayaan, ruang kelas,
perpustakaan, laboratorium, halaman sekolah, kebun sekolah, lapangan sekolah
dan sebagainya.[16]
G.
Pengertian
Evaluasi
Evaluasi adalah pengumpulan kenyataan
secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan
dalam diri siswa dan menetapkan sejauhmana tingkat perubahan dalam pribadi
siswa. Evaluasi
adalah proses menggambarkan, memperoleh dan menyajikan informasi yang berguna
untuk menilai alternatif keputusan. Dua langkah kegiatan yang dilalui sebelum
mengambil suatu keputusan itulah yang disebut mengadakan evaluasi, yakni
mengukur dan menilai.
Mengukur adalah membandingkan sesuatu
dengan satu ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Menilai adalah mengambil
suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik dan buruk. Penialian bersifat kualitatif.
Mengadakan evaluasi meliputi kedua langkah tersebut yakni mengukur dan menilai.
Didalam istilah asing penilaian adalah evaluation
dan didalam bahasa indonesia disebut evaluasi.[17]
Evaluasi berasal dari kata evaluation, kata tersebut diserap
kedalam perbendaharaan istilah bahasa Indonesia menjadi evaluasi. Evaluasi
adalah to find out, decide the ammoubt or vale yang artinya suatu upaya untuk
menentukan nilai atau jumlah.[18]
Suchman memandang evaluasi
sebagai sebuah proses menentukan hasil yang telah dicapai beberapa kegiatan
yang direncanakan untuk mendukung tercapainya sebuah tujuan. Menurut Worthen
dan Sanders mengatakan bahwa kegiatan mencari sesuatu yang berharga tentang sesuatu;
dalam mencari sesuatu tersebut, juga termasuk mencari informasi yang bermanfaat
dalam menilai keberadaan suatu program, produksi, prosedur, serta alternatif setrategi yang
diajukan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan.
Stufflebeam mengatakan bahwa evaluasi merupakan
proses penggambaran,
pencarian dan pemberian informasi yang sangat bermanfaat bagi pengambil keputusan dalam
menentukan alternatif
keputusan.[19]
Dari
beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk
mengumpulkan informasi tentang bekerjanya sesuatu , yang selanjutnya informasi
tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil keputusan.
Evaluasi dalam pembelajaran anak usia dini berdasarkan Permendiknas No. 58
Tahun 2009, dimana penilaian anak berdasarkan tingkat pencapaian perkembangan
anak, yaitu : nilai – nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, sosio
emosional.[20]
Evaluasi didalam pendidikan anak usia dini ada beberapa hal yang dapat
dilakukan oleh guru, antara lain:
1.
Pengamatan langsung
(observasi)
2.
Mencatat kegiatan
yang dilakukan dan tahapan main anak
3.
Mencatat ungkapan,
pertanyaan (tanya jawab), pernyataan anak
4.
Membaca hasil karya
anak, mendokumentasikan semua bahasa natural anak ke dalam portofolio masing-masing anak.[21]
H.
Tujuan
Evaluasi
Kegiatan evaluasi tidak terlepas dari
setiap bidang-bidang dan kegiatan, misalnya didalam kegiatan bimbigan dan
penyuluhan, kegiatan supervisi, kegiatan seleksi dan kegiatan pengajaran
lainnya, seperi kegiatan belajar mengajar di lembaga pra sekolah sekalipun.
Dari setiap kegiatan tersebut menuntut tujuan yang berbeda-beda, sehingga
memiliki kegiatan evaluasi yang berbeda-beda. Dalam kegiatan bimbingan dan
penyuluahan,
tujuan evaluasi adalah untuk memperoleh informasi secara menyeluruh mengenai
karakter anak didik sehingga dapat diberikan bimbingan dan penyuluhan dengan
sebaik-baiknya. Dalam kegiatan supervisi, tujuan evaluasi adalah untuk
mementukan keadaan suatu situasi pendidikan pada umumnya dan situasi
belajar-mengajar(teaching learning situation) pada khususnya sehingga
dapat diusahakan langkah-langkah perbaikan
dan peningkatan mutu pendidikan dan pengajaran disuatu sekolah.[22]
Sedangkan dalam proses instruksional, evaluasi bertujuan:
1.
Untuk mengetahui sejauh
mana anak didik menguasai materi yang telah diberikan
2.
Untuk mengetahui
sejauhmana kemampuan, keuletan, dan kemampuan anak didik terhadap ,materi
pembelajaran.
3.
Untuk mengetahui apakah
tingkatan kemajuan anak didik sudah sesuai dengan tingkatan kemajuan menurut
program kerja
4.
Untuk mengetahui
derajat efisiensi dan keefektifan strategi pengajaran yang telah digunakan,
baik yang menyangkut metode maupun yang menyangkut teknik belajar-mengajar.
Tujuan-tujuan
diatas masih bersifat umum dan menyeluruh. menurut pendapat Noll masih mempunyai
sistematika yang agak berlainan. Ia berpendapat
bahwa tujuan evaluasi dan pengukuran dalam bidang pendidikan dapat dinyatakan
dalam dua cara, yaitu:
1) Untuk
menolong anak mengetahui segi-segi yang kuat serta segi-segi yang lemah yang
terdapat pada dirinya, sedangkan anak tadi mengembangkan keterampilan-ketrampilan
dan pengetahuan guna mendapat tempatnya dalam kehidupan dan masyarakat.
2) Untuk
mengetahui sampai dimana anak berhasil mencapai tujuan pendidikan, dan masih
berapa jauh kemampuan yang dicapai anak kalau ditinjau dari tujuan-tujuan pendidikan.[23]
I.
Fungsi
Evaluasi
Fungsi evaluasi sangatlah luas
cakupannya dan bergantung kepada dari sudut mana melihatnya, secara menyeluruh
fungsi evaluasi adalah:
1.
Secara psikologi anak
didik selalu butuh untuk mengetahui sejauh mana ia berjalan menuju kepada
tujuan yang hendak dicapai.
2.
Secara sosiologi,
evaluasi berfungsi untuk mengetahui apakah anak didik sudah cukup mampu untuk
terjun ke masyarakat.
3.
Secara dikdaktis-metodid,
evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan anak didik pada
kelompok tertentu sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya masing-masing,serta
membantu guru dalam usaha memperbaiki metode belajar mengajarnya.
4.
Evaluasi berfungsi
untuk mengetahui status anak didik diantara teman-temanya, apakah ia termasuk
anak yang pandai, sedang, atau kurang pandai.
5.
Evaluasi berfungsi
untuk mengetahui taraf kesiapan anak didik dalam menempuh program
pendidikannya.
6.
Evaluasi berfungsi
membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi, baik dalam rangka
menentukan jenis pendidikan, jurusan, maupun kenaikan kelas.
7.
Secara administratif,
evaluasi berfungsi untuk memberikan
laporan tentang kemajuan anak didik kepada orang tua, pejabat pemerintah yang
berwenang, kepala sekolah, guru-guru dan anak didik itu sendiri.[24]
Adapun fungsi dari evaluasi pendidikan,
ditinjaudari berbagai segi dalam sistem pendidikan, maka dengan cara lain dapat
dikatakan bahwa funsi evaluasi ada beberapa hal:
1.
Evaluasi berfungsi
selektif
Dengan
cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk mengadakan seleksi terhadap
siswanya.
2. Evaluasi
bersifat diagnostik
Apabiala
alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi persyaratan, maka dapat
dilihat hasilnya. Guru akan mengetahui kelemahan siswa. Disamping itu diketahui
pula sebab-musabab kelemahan itu. Jadi
dengan mengadakan evaluasi, sebenarnya guru mengadakan
diagnosis kepada siswa tentang kebaikan dan kelemahannya, sehingga sebab dari
kelemahan itu akan cepat cara jalan keluarnya untuk mengatasinya.
3. Evaluasi
berfungsi sebagai penempatan
Evaluasi
ini berfungsi untuk menentuka dengan pasti dikelompok mana seorang siswa harus
ditempatkan sesuai dengan kemampuan siswanya. Sekelompok siswa mempunyai hasil
evaluasi yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.
4.
Evaluasi berfungsi
sebagai pengukur keberhasilan
Fungsi
evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana suatu program berhasil
diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh beberapa faktor yaitu guru,
metode, mengajar, kurikulum, sarana dan sistem kurikulum.[25]
J.
Prinsip-Prinsip
Evaluasi
Untuk melakukan evaluasi pendidikan
dengan sebaik-baiknya, sebagai guru yang provesional hendaknya mengetahui
prinsip-prinsip Evaluasi sebagai berikut:
1. Prinsip
integralitas (keseluruhan) dalam prinsip ini yang dinilai bukan hanya
kecerdasan atau hasil pelajaran atau ingatannya saja, melainkan seluruh
pribadinyamelainkan seluruh opribadinya. Untuk pelaksanaan ini diperlukan
bermacam-macam teknik/bentuk evaluasi.
2. Prinsip
kontinuitas. Evaluasi yang baik tidak hanya dilakukan secara insendental
belaka( umpamanya hanya tiap catur wulan sekali) karena pendidikan itu
merupakan suatu proses yang kontinu, maka penilaian yang doiperoleh harus
senantiasa dihhubungkan dengan hasil-hasil penilaian pada waktu sebelum nya.
Sehingga dengan demikian dapat diperoleh
gambaranyang jelas tentang perkembangan anak.
3. Prinsip
obyektivitas. Tiap penilaian harus diusahakan agar dilakukan se
obyektif-obyektifnya, dalam hal perasaan se penilai harus dijauhkan, tidak
boleh mempengaruhi penilaian. Juga situasi seperti senang , marah, jangan
mempengaruhi evaluasi yang sedang dijalankan . penilaian yang obyektif adaalah
penilaian yang didasarkan semata-mata atas kenyataan yang sebenarnya.
4. Prinsip
koperatif. Prinsip ini sangat erat hubungannya dengan ketiga prinsip tersebut
diatas. Yang dimaksud adalah bahwav setiap penilaian hendaknya dilakukan
bersama-sama oleh semua guru yang bersangkutan.
Prinsip[ ini sangat diperlukan untuk diperlukan terutama di sekolah.
K.
Bentuk/Teknik
Evaluasi
Untuk
melakukan evauasi dalam pendidikan dengan sebaik-baiknya, ada bertmacam-macam
bentuk atau cara yang digunakan. Wrightstone cs. Dalam bukunya ‘ Evaluation In Modern Education”
menggolongkan bermacam-macam bentuk evaluasi yang bisa digunakan dalam
pendidikan , menjadi 9 kelompok, Yaitu:[26]
1.
Short-Answer
Test
Short
answer tests atau yang biasa disebut juga objective tests atau new type tests adalah test yang disusun sedemikian sehiingga jawabannya
sangat singkat, si penjawab tinggal mencoret, melingari, memilih, mngisi, atau
menjodohkan, dsb. Short—aswer test
terdiri dari beberapa macam, antara lain:
a. Completion atau
ffill—in, yaitu satu bentuk tes yang menuntut si
penjawab untuk melengkapi kalimat atau pernyataan dengan satu atau dua kata
uang tepat. Atau mengisi titik-titik yng tersedia dalam suatu rangkaian
kalimat atau ceritera, dengan kata yang sesuai. Bntuk ini seringkali terdapat
paa soal-soal ujian mata pelajaran ilmu bumi, sejarah dan bahasa.
b. True-fallse (bentuk
salah benar), dalam bentuk ini si penjawab mengemukakan pendapat tentang benr
atau salah” salahnya suatu kalimat atau pernyataan, dengan melingkari atau
menulis huruf B, jika menurut pendapatnya pernyataan itu benar, dan huruf S,
jika menurutpendapatnya pernyataan itu salah.
c. Multiple choice
(bentuk pilihan beganda) si penjawab dituntut untuk memilih satu ari dua atau
lebih kemungkinan jawaban yang tersedia. Tugas si penjawab meggaribawahi,
melingkari, mencoret nomor jawaban yang dianggap paling tepat.
d. Matching
(bentuk menjodohkan) bentuk ini terdiri dari dari dua kolom/lajur kata—kata dan
kalimat yang disejajarkkan.
Kebaikan short answer tests antara lain:
a. Dapat
digunakan untuk menilai bahan pelajaran yang banyak atau luas. Pelajaran yang
diberikan 1 atau 2 tahun dapat ditest sekaligus.
b. Baik yang ditest,
menjawabnya dapat bebas dan terpimpin ( karena ada jawaban yang tersedia)
c. Dapat
dinilai secara obyektif (siapapun
penilainya adalah sama) karena kunci jawaban telah ditentukan
sebelumnya.
d. Mengharuskan
siswa untuk belajar baik-baik, karena sukar untuk berspekulasi terhadap bagian
mana dari seluruh pelajaran itu yang haruis dipelajari.
e. Memeriksa
cepat dan mudah, tidak memerlukan banyak pikiran
Keburukan/kelemahan, antara lain:
a. Kurang
memberikan kesempatan untuk menyatakan isi hati atau kecakapan yang
sesungguhnya, karena anak tidak membuat kalimat.
b. Memungkinkan
anak berbuat coba-coba dalam menjawabnya.
c. Menyusun
test ini tidak mudah, memerlukan ketelitian dan waktu yang relatif lama
d. Memerlukan
biaya dan kertas yang lebih banyak, dibandingkan dengan essay test.[27]
2.
Essay
and oral examinations
Esssay
Examination
Esssay
test yaitu suatui test yang jawabannya
menuntut murid untuk menyatakan pendapat/jawabannya berupa karangan atau uraian
dalam kalimat. Essay test merupakan bentuk/teknik evluasi yang paling dikenal
dan banyak dipergunakan oleh guru-guru di sekolah baik dulu maupun sekarang.
Kebaikan antara lain:
a. Bagi
guru, menyusun test tersebut sangat mudah dan tidak memerlukan waktulama/
b. Bagi
yang di test mempunyaii kebebasan untuk menjawab dan mengeluarkan pendapatnya.
c. Melatih
siswa mengeluarkan buah pikiran dalam bentuk kalimat/bahasa yang teratur.
d. Lebih
ekonomis, karena tidak memerlukan biaya atau kertas yang banyak.
Keburukan/kelemahannya:
a. Tidak/kurang
dapat digunakan untuk mentest pelajaran yang cakupannya luas/banyak: demikian
kurang dapat menilai isi pengetahuan siswa yang sebenarnya.
b. Kemungkinan
jawaban yang heterogren sifatnya, menyulitkan guru dalam memberi nilai.
c. Karakteristik
pembuat essaynya yang berbeda pada setiap guru, dapat menimbulkan salah
pengertian bagi murid-murid, juga tuntutan banyak jawaban bagi tiap guu tidak
sama.[28]
3.
Oral-examintion
( bentuk test/ujian lisan)
Kebaikan dan keburukan oral examination
Kebaikannya:
a. Lebih
dapat menilai kepribadian dan isi pengetahuan seseeorang, karena dilakukan
secara face to face
b. Jika
yang diuji belum jelas, penguji dapat mengubah pertanyaannya sehingga diengerti
oleh yang diuji.
c. Penguji
dapat mengorek isi pengetahuan yang diuji sampai mendetail, dan dapat
mengetahui bidang mana dari pengetahuan itu yang lebih disuakai atau
disenanginya.
Keburukannya:
a. Jikan
hubungan penguji dengan yang diuji kurang baik, dapat mengganggu obyektivitas
hasil test.
b. Sifat
penggugup pada yang ditest dapat menggamggu kelancaran jawaban yang
diberikannya.
c. Pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan tidak dapat selalu sama jawabannya pada tiap orang yang ditest.
d. Untuk
mentest kelompok memerlukan waktu yang lama, sehingga tidak ekonomis.[29]
4. Observation and
anecdotal records
5.
Questionnaires,
invertories and interviews
6.
Checklits
and rating scales
7.
Personal
reports and projective techniques
8.
Sociometric
mathods
9.
Case
studies
10. Comulative records
BAB
III
PENUTUP
Simpulan
A.
Media pembelajaran
adalah segala sesuatu yang dapat dijadikan bahan (software) dan alat (hardware) untuk bermain yang
membuat anak usia dini mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan
menentukan sikap.
B.
Fungsi media pembelajaran
1.
Menangkap suatu objek
2.
Memanipulasi keadaan,
peristiwa, atau objek tertentu
3. Menambah
giarah dan motivasi belajar siswa
4. Media
pembelajaran memiliki nilai praktis
C. Manfaat media pembelajaran
1.
Pesan atau informasi pembelajaran dapat disampaikandengan lebih jelas,
menarik, konkret dan tidak hanya dalam bentuk kata-kata tertulis atau hanya
lisan.
2.
Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indra. Misalnya obyek yang
terlalu besar dapat digantikan dengan realitas, gambar, film bingkai, film atau
model. Kejadian atau peristiwa di masa lalu dapat di tampilkan lagi lewat
rekaman film, video dan lain – lain. Obyek yang begitu kompleks dapat disajikan
dengan model, diagram dan lain – lain.
3.
Meningkatkan sikap aktif siswa dalam belajar.
4.
Menimbulkan kegairahan dan motivasi dalam belajar.
5.
Memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara siswa dengan lingkunagn
dan kenyataan.
6.
Memungkinkan siswa untuk belajar sendiri – sendiri menurut kemampuan dan
minatnya.
7.
Memberikan perangsang, pengalaman,
dan persepsi, yang sama bagi siswa.
D. Jenis – jenis media
pembelajaran
1.
Media visual /
grafis
Media visual adalah media yang
dapat dilihat. Media visual terdiri atas media yang dapat diproyeksikan (projected
visual), misalnya: overhead projector (OHP), slide (film
bingkai), flimstrip (film rangkai), opaque projector, video
dan film. dan media yang tidak dapat
diproyeksikan (non projected visual), misalnya : gambar / foto yang
konkret, sketsa, diagram, grafik, kartun,
dan sebagainya..
2.
Media audio
Media audio adalah media yang
berkaitan dengan indra pendengaran. Pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam
lambang – lambang auditif, baik verbal (lisan), maupun non verbal. Ada beberapa
jenis media audio, yaitu: radio, alat perekam magnetik, piringan hitam, dan
laboratorium bahasa.
3.
Media audio visual
Beberapa jenis media audio
visual, diantaranya: film bingkai, film, televisi, video, media transparansi,
permainan dan simulasi.
E.
Sumber belajar adalah
segala sesuatu yang ada disekitar lingkungan kegiatan belajar yang secara fungsional dapat
digunakan untuk membantu optimalisasi hasil belajar.
F.
Jenis – jenis
sumber belajar
1. Pesan
(Message)
Pesan merupakan sumber belajar yang
meliputi pesan formal, seperti
kurikulum, peraturan pemerintah, perundangan, GBPP, silabus, dan Pesan
non formal sebagai
bahan pembelajaran, misalnya cerita
rakyat, legenda, ceramah oleh tokoh masyarakat dan ulama.
2. Orang
(People)
3. Bahan
(Materials)
Bahan merupakan suatu format yang digunakan
untuk menyimpan pesan pembelajaran, seperti buku lembar kerja anak, buku paket, program video, film, dan sebagainya (biasa
disebut software).
4.
Alat (Device)
Alat yang dimaksud disini adalah
benda-benda yang berbentuk fsik, sering
disebut juga dengan perangkat keras (hardware). Contoh film tape
recorder, opaque projector, multimedia projector dan sebagainya.
5.
Teknik (Technique)
Tekik yang dimaksud
adalah cara ( prosedur) yang digunakan orang dalam memberikan pembelajar guna tercapai tujuan
pembelajaran. Di dalamnya mencakup ceramah,
permainan / simulasi, tanya jawab, sosiodrama, dan sebagainya.
6. Latar (Setting)
Latar atau lingkungan yang berada
didalam sekolah maupun lingkungan yang berada di luar sekolah, baik yang
sengaja dirancang maupun yang tidak secara khusus disiapkan untuk pembelajaran.
G. Evaluasi adalah pengumpulan kenyataan secara sistematis
untuk menetapkan apakah dalam kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa
dan menetapkan sejauhmana tingkat perubahan dalam pribadi siswa. Evaluasi dalam
pembelajaran anak usia dini berdasarkan Permendiknas No. 58 Tahun 2009, dimana
penilaian anak berdasarkan tingkat pencapaian perkembangan anak, yaitu : nilai
– nilai agama dan moral, motorik, kognitif, bahasa, sosio emosional.
H. Tujuan evaluasi
1. Untuk
mengetahui sejauh mana anak didik menguasai materi yang telah diberikan
2. Untuk
mengetahui sejauhmana kemampuan, keuletan, dan kemampuan anak didik terhadap
,materi pembelajaran.
3. Untuk
mengetahui apakah tingkatan kemajuan anak didik sudah sesuai dengan tingkatan
kemajuan menurut program kerja
4.
Untuk mengetahui
derajat efisiensi dan keefektifan strategi pengajaran yang telah digunakan,
baik yang menyangkut metode maupun yang menyangkut teknik belajar-mengajar.
I. Fungsi evaluasi
1.
Secara psikologi
anak didik selalu butuh untuk mengetahui sejauh mana ia berjalan menuju kepada
tujuan yang hendak dicapai.
2.
Secara sosiologi,
evaluasi berfungsi untuk mengetahui apakah anak didik sudah cukup mampu untuk
terjun ke masyarakat.
3.
Secara
dikdaktis-metodid, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan
anak didik pada kelompok tertentu sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya
masing-masing,serta membantu guru dalam usaha memperbaiki metode belajar
mengajarnya.
4. Evaluasi
berfungsi untuk mengetahui status anak didik diantara teman-temanya, apakah ia
termasuk anak yang pandai, sedang, atau kurang pandai.
5.
Evaluasi berfungsi
untuk mengetahui taraf kesiapan anak didik dalam menempuh program
pendidikannya.
6.
Evaluasi berfungsi
membantu guru dalam memberikan bimbingan dan seleksi, baik dalam rangka
menentukan jenis pendidikan, jurusan, maupun kenaikan kelas.
7. Secara
administratif, evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan
tentang kemajuan anak didik kepada orang tua, pejabat pemerintah yang
berwenang, kepala sekolah, guru-guru dan anak didik itu sendiri.
J. Prinsip – prinsip evaluasi
1. Prinsip
integralitas (keseluruhan)
2. Prinsip
kontinuitas.
3. Prinsip
obyektivitas
4. Prinsip
koperatif.
K. Bentuk / teknik evaluasi
1.
Short-Answer
Test
2.
Essay
and oral examinations
3.
Oral-examintion
( bentuk test/ujian lisan)
4.
Observation
and anecdotal records
5.
Questionnaires,
invertories and interviews
6.
Checklits
and rating scales
7.
Personal
reports and projective techniques
8.
Sociometric
mathods
9.
Case
studies
10. Comulative records
DAFTAR PUSTAKA
Latif, Mukhtar,
dkk. 2014. Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta : Kencana.
Sanjaya, Wina. 2013. Perencanaan & Desain sistem Pembelajaran. Jakarta:
Kencana.
Anitah, Sri. 2009. Media
Pembelajaran. Surakarta : Lpp
Uns dan
Uns Press.
Martiyono. 2012. Perencanaann Pembelajaran. Yogyakarta : Aswaja
Pressindo.
Daryanto, H. 2012. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Reneka
Cipta.
Arikunto, Suharsimi dan Cepi Safruddin Abdul Jabar. 2007. Evaluasi
Program Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, Zainal, 1991. Evaluasi Instruksional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Purwanto, M.Ngalim, dan Sutaadji Djojopranomo. 1979. Administrasi
Pendidikan. Jakarta: Mutiara.
[1] Mukhtar Latif, dkk., Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini,
(Jakarta : Kencana, 2014), hlm. 151.
[18] Suharsimi Arikunto
dan Cepi Safruddin Abdul Jabar, Evaluasi
Program Pendidikan,(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm.1
[19] Ibid,. hal. 1
[21]Ibid,.hlm. 168.
[23] Ibid,. hal. 7
[24] Ibid,. hal. 9
[26] M. Ngalim Purwanto,
Sutaadji Djojopranomo,Administrasi
Pendidikan, (Jakarta: Mutiara, 1979),
hlm.
146
[27] Ibid,.. hal. 149
[28] Ibid,.. hal. 150
Tidak ada komentar:
Posting Komentar